Menu Drop Down

Senin, 01 April 2013

Bertani organik Bikin Ngos-Ngosan



Pertanian organik adalah pertanian tingkat tinggi, betapa tidak pertanian organik sama sekali tidak boleh menggunakan pestisida. Padahal untuk bisa laku dipasaran produk organik tidak boleh kalah bersaing dengan non organik, disinilah diperlukan seni tingkat tinggi untuk bisa menghasilkan karya petani terbaik.

Susahnya bertani organik dirasakan betul oleh 14 petani asal Kabupaten  Kapuas, Provinsi Kalteng yang belajar pertanian organic di Kecamatan Sukun. Pelatihan baru memasuki tengah hari para peserta sudah ngos-ngosan setelah menjcangkul, menanam, memasang plastik pelindung tanaman ,menyiram  tanaman, membuat pupuk bokasi dan pupuk Kascing (bekas cacing).

Meski terlihat capek, para peserta pertanian organik tetap ceria seusai menanam sawi, kangkung, bayam  yang menjadi materi belajar. Dengan lahap tamu-tamu dari Kapuas menikmati hidangan yang disuguhkan, di pondok bambu yang ada dilokasi pelatihan.
Petani asal Kapuas, ismail mengakui capek juga bertani secara organik sebab harus menanam tanaman tanpa pestisida. Tetapi melihat pertanian ini punya prospek bagus jika dikembangkan di Kapuas, meski lelah harus tetap semangat sebab mencari ilmu memang tidak akan pernah mudah.

“Sudah banyak yang kami pelajar di Kota Malang ini, selain menanam sayuran saya juga sangat tertarik budidaya cacing yang di Kapuas belum ada,” ujar ismail, Selasa (6/11).
Ismail menceritakan di Kapuas, lahan bekas kelapa sawit sudah tidak ditanami karena tanahnya jadi gersang semua. Dengan menggunakan cacing, tanah itu bisa subur kembali. Sebab dilihat sepintas di Kecamatan Sukun, pupuk cacing merupakan hormone yang bisa sangat bagus menyuburkan tanah.

“Banyak yang bisa kami serap dari belajar di Kota Malang, bukan hanya menanam sayuran organnik, membuat pupuk bokasi, kompos dan Kascing tetapi juga budidaya papaya kalifornia,’ ujat Ismail.

Petani asal sidoarjo ini menambahkan, dengan memiliki lahan seluas 10 hektar terdiri dari enam  hektar ditanami kelapa sawit, dua hektar ditanami berbagai tanaman palawija. Masih ada 2 hektar lagi yang bisa digunakan untuk bertanam papaya yang bisa menjanjikan penghasilan luar biasa jika di kelola seperti di Kecamatan Sukun.

Sama seperti Ismail, Situmeang mengaku banyak yang bisa dipelajari dari belajar di Kota malang, diantaranya teknologi yang bisa digunakan mendukung pertanian organic. Seperti penggunaan insect net, pipa tunel yang di Kapuas belum ada.

Instruktur pelatihan Hari Suyanto, mengatakan meski pertanian organik merupakan warisan nenek moyang yang sangat teradisionl untuk bisa menghasilkan hasil terbaik harus didukung dengan teknologi. Sebab untuk bisa memenuhi permintaan pasar yang sangat tinggi secara kontinyu kalau tidak didikung teknologi yang bagus maka permintaan itu akan sulit dipenuhi secara konsisten.

“bertani organik memang tidak mudah dan butuh proses panjang, kesabaran dan ketelatenan tingkat tinggi. Itu mengapa produk organik meski dijual lebih mahal permintaannya tidak pernaah habis,” tegas hari. 

Sumber : Mediacenter

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar